Tuesday, 9 August 2011

a home

Dulu, aku punya sebuah tempat yang begitu berharga di mata ku. Sebuah 'rumah' dengan orang-orang yang hangat di dalamnya. Dalam suka dan duka, mereka tetap hangat dan berbahagia. Sesekali gegabah menyergap mereka dan membuat mereka serius, tapi mereka tetaplah mereka, selalu kelihatan tenang dan menyenangkan bagi ku. Di 'rumah' ini aku belajar mengerti dan menghargai, bahwa sebuah hati memiliki kekangan dan batasan yang membuat dia tidak mampu berkembang, ada sebuah aturan tertulis yang mengikat dan kecendrungan menyakitkan. Hal itu lah yang membuat 'rumah' hangat ku, menjadi tidak hangat lagi. Aku pernah berjanji, aku akan menghangatkan rumah itu lagi, aku akan berusaha, dan apapun yang terjadi, aku akan bertahan di sana, di 'rumah' yang ku inginkan sejak dulu, saat itu aku sadar, itu adalah 'rumah'ku, tempat aku harus kembali, tempat aku berpulang. 

Namun sekarang, meski itu tetap 'rumah'ku, namun aku seperti tidak mengenali tempat itu lagi. Bukan tentang pemilik nya yang telah berganti, bukan tentang cat rumah nya yang tampak usang, bukan tentang kusen dan ubin-ubin nya, tapi tentang bagaimana pemilik baru itu memperlakukan 'rumah'ku.
'Rumah' ku tampak asing dengan atmosfer baru yang ada. Meski kusen-kusen nya tetap sama, tapi ada hawa dingin yang menyeruak. Meski ubin-ubin nya tetap usang, ada ke enggan an yang kuat untuk menerima pijakan pemilik baru. 
Aku menatap penampilan baru 'rumah' ku dengan air mata berlinang. Pekarangannya tidak terurus. Bunga-bunga layu, dedaunan menguning, rumput-rumput liar tumbuh dimana pun. Aku menghela napas berkali-kali. 

Aku ingin mengusir pergi pemilik baru itu, tapi aku lemah. Aku ingin meminta pemilik baru itu untuk mengurus bunga-bunga dan pohon-pohon, tapi dia tidak memandang itu semua. Aku lelah. Aku ingin menata perlahan bunga-bunga dan pohon-pohon yang ada. Aku akan menjelaskan kepada ubin agar ubin menjadi lega. Aku akan mengusap kusen dan berbisik bahwa 'semua akan baik-baik saja..' 
Aku akan memampukan hati ku untuk melindungi mereka dan menguatkan mereka, namun aku tidak bisa berbohong kalau aku telah kehilangan 'rumah'ku.

'Rumah" itu, adalah satu-satu nya tempat yang membuat aku begitu berarti.. Namun sekarang, apa bila aku membunuh diri ku di depan 'rumah' itu, apakah 'rumah' itu mau memaafkan aku karena tidak bisa melindungi nya lagi?


Monday, 8 August 2011

The Last Option

Hanya ada 2 pilihan yang tersisa..


1. Diam dan melihat semua ini memburuk, dengan hanya bisa mengingatkan. 
2. Memberontak dan menghancurkan segalanya. 

Plus Minus dari ke dua pilihan ini begitu besar.
Pilihan 1. 
(+)  = Kondisi tetap baik2 saja, anak2 tetap baik2 saja, .
(-) = Hati kita terkikis perlahan dan akan membawa pengaruh buruk buat masa depan. 

Pilihan 2. 
(+) = Semua uneg-uneg bisa tersampaikan dengan jelas dan legaa luar biasa.
(-) = Kondisi yang parah dengan tingkat kehancuran yang tidak terdefinisikan. 

satu pilihan terakhir yang semoga bisa menetralkan keadaan dan memperbaiki keadaan. saat nya salah satu dari kita harus berkorban, dan itu adalah aku. 

Dear, big D

Dear Daddy, This is me. This is my heart. 

Big D, Engkau yang paling mengerti aku dan hati ku. 
Engkau mengerti dimana letak hati ku berada, dan Engkau tahu apa yang di mampu kan oleh hati ku untuk bertahan.. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, sungguh Engkau yang paling mengenal  ku dan menyayangi ku. 
Engkau tahu malam-malam penuh air mata ketika aku merenungi hidup ini. Engkau tahu malam-malam penuh doa ketika aku mendoakan kebahagiaan hidup mereka, orang-orang yang ku kasihi. Engkau tahu malam-malam penuh kasih ketika aku berharap perubahan dalam hidup mereka. Bapa, Engkau tahu betapa dalam kasihku pada Mu dan kasihku pada sesama ku. Engkau memampu kan hati ku untuk selalu memaafkan dan mengasihi, Bapa Engkau luar biasa. 
Dan hingga malam-malam penuh tangis ku semakin banyak, dan ketidak relaan ku semakin menjadi, Bapa aku tahu, Engkau ada di sana, Engkau ada di setiap denyut nadi ku dan aliran darah ku, Engkau yang menguatkan ku untuk melawati satu malam dengan kasih kasih Mu.. 
Dan ketika tidak ada perubahan yang di bawa oleh dia, ketika melihat wajah nya menyakiti mata ku, mendapati nya tersenyum membekukan bibir ku, dan sakit ku semakin mendera, Engkau ada di sana, di rasa sakit itu Engkau berdenyut dan menyakiti ku. Engkau ingin aku kuat terhadap sakit ini. Engkau sungguh mulia. 
Dan saat mimpi-mimpi ku harus ku kubur dalam di lautan kekecewaan, aku masih berdoa, aku ingin Engkau ada di sana, dan di hati saudara-saudara ku yang senantiasa melanjutkan mimpi ku.. Engkau ada di sana. 

Dear Daddy, YOU know me so well, YOU know everything about me, my tears, my smile, my strength, my weakness, YOU know. and this is my heart, I give it back to YOU. 

Amen.

yang menahan ku..

beberapa hal yang menahan ku untuk tetap berada di sini adalah,
- anak-anak.
setiap memandang wajah mereka, dan mengetahui betapa antusias nya mereka untuk berada di posisi ini, aku seperti berefleksi ulang, akan kah ada seseorang yang akan menyayangi mereka seperti aku? memperhatikan segala hal tentang mereka, kehidupan mereka, psikis dan mental mereka, ada kah?
anak-anak adalah alasan terbesar ku, anak-anak begitu menyayangi ku, mereka memanggil ku dengan sebutan "Nai-nai" membuat aku merasa begitu nyaman dan bahagia. aku berada di tengah-tengah keluarga yang begitu menyayangi ku, aku amat sangat bahagia, dan aku bertanya, apa kah aku selemah ini? apa kah aku begitu tidak memiliki kemampuan sehingga begitu mudahnya untuk menyerah, kepergianku nanti, mungkin saja melukai anak-anak, mengecewakan mereka dan membuat mereka kehilangan harapan, tapi aku percaya, Big D akan senantiasa ada untuk mereka, menyayangi dan mencintai mereka, menumbuhkan semangat mereka dan memberikan jalan yang terbaik untuk mereka.. Aku percaya. Aku titipkan anak-anak dear Daddy..
- Niko dan Novi.
dua kadep ku. bukan aku meragukan mereka, aku hanya belum tenang, karena melihat hubungan mereka dengan anak-anak yang belum rekat, membuat aku ragu untuk meninggalkan anak-anak dengan mereka. Niko masih harus banyak membereskan sengketa di departemen nya, begitu juga dengan Novi. Mereka harus benar-benar rekat dan siaga 24 jam untuk anak-anak mereka. sesederhana itu permintaanku, namun ada keraguan apa kah itu dapat menjadi nyata.
- Adam. 
jelaskan padaku, bagaimana bisa aku meninggalkan seorang sahabat yang sedang dalam kondisi labil dan tidak menentu. emosi yang naik turun, dan sok-sok an merasa kuat, apa ada ide, bagaimana aku harus menghadapi Adam? yang jelas, sekalipun dia kuat dan tegar, amat sangat tidak etis bila aku berlaku demikian, pergi dan meninggalkannya dengan sebuah tanggung jawab. aku cuma mau, Adam menjadi lebih baik dan bahagia di departemen nya dan bertahan di sana selamanya, apapun alasannya,  di sanalah rumah Adam.
-Probo.
aku tidak ingin mengecewakan dia. perjuangan probo, terlalu besar untuk ku hancurkan begitu saja. termasuk semua pengorbanan dia.
- Marcell.
tidak ada alasan khusus, aku hanya berat begitu saja. perjuangan kita selama ini, waktu-waktu Marcell yang terbuang karena mendengarkan keluh kesah ku, haruskah terbuang sia-sia? dan lagi, ada sebuah janji dalam diri ku sendiri, yang harus ku tepati. Tanggung jawab sebagai seorang kabid harus kita bagi dua, aku ngak mau memberatkan Marcell saja.. 




Dan, di sini lah, Dilemmatisasi ku di mulai, pada sebuah titik, ketika aku memikirkan sekelilingku. Aku mencoba untuk menjadi egois, benar-benar egois, namun Tuhan mengembalikan hati ku dalam keadaan semula, melapangkan luas hati ku, dan mengajak ku untuk memaafkan dan belajar bertahan. Mungkin aku mampu memampukan hati ku untuk bertahan dan tetap tegar, namun, jika ini tidak pernah menyelesaikan masalah, mungkin mundur adalah satu-satunya jalan keluar yang bisa menyelesaikan semua ini. 


If I had another choice..

Friday, 5 August 2011

I come from no where

I come from  no where. 
aku datang tanpa apa-apa. hanya sebentuk hati, benar-benar hanya sepotong hati. 
suatu ketika, seorang sahabat membukakan jalan untukku, dia adalah Adam. suatu siang tanpa kepastian, Adam menjabat tanganku di depan Swalayan UK Petra dan bilang, "Selamat, kamu diterima sebagai divisi Acara LCP.." seumur hidupku, aku tidak pernah tahu, tidak pernah menyangka, bahwa hari itu, adalah hari paling bersejarah yang merubah sebagian jalan hidupku. 
Perjalanan singkat yang mengantarkan aku untuk menemui Niko, sang ketua LCP dan juga the true leader for me. Niko yang sabar, Niko yang luar biasa dan Niko yang benar-benar menginspirasi aku dalam hal kesabaran dan kepala dingin. 
dan Probo, adalah sebuah chapter dalam hidupku. seorang yang bisa membangun dan menjatuhkan dalam begitu singkatnya, seseorang yang ngak neko-neko dan apa adanya, seseorang yang begitu sederhana dan mampu merasakan kesulitan orang lain. Bagiku, Probo adalah my big brother, dia mengerti aku dalam suka duka, meski dia tidak selalu available, tapi keberadaannya begitu berarti. 
Di tengah dilemmatisasi yang tidak terarah, sosok Marcell hadir. Bukan sebagai ksatria baja hitam atau pun ultraman, Marcell datang dengan segala pemikiran positif nya dan berusaha menetralkan suasana. Keberadaan Marcell bagiku menjadi sebuah keseganan, dan butuh waktu jauh lebih lama untuk akhirnya mengenal dan belajar banyak dari nya.

Adam, Niko, Probo dan Marcell.. 
mereka adalah sosok sahabat sejati, saudara dalam cinta dan kasih, suka dan duka..
Terlepas dari segala tujuan keberadaan kita, bagiku selamanya mereka adalah partner terbaik yang pernah ku miliki.. 

Dari Adam, aku belajar mengenai perjuangan dan pengorbanan yang sesungguhnya. Bagaimana dalam titik terendah dalam hidup kita sekalipun, kita masih bisa memikirkan kebahagiaan orang lain, kesejahteraan dan masa depan orang lain. Hidup ini memberikan yang terbaik dan melayani sesama. 

Dari Niko, aku mengerti bagaimana aku harus bersabar, bagaimana aku harus memandang sesuatu dari sudut pandang yang jauh dan berbeda, menilai segala sesuatu dari poin baik buruknya, dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang. Setiap tindakan dan perilaku kita akan selalu membawa pergeseran dan dampak bagi orang lain, sehingga dari sebuah keputusan harus berisi kematangan dari pemikiran berbagai sisi. 

Dari Probo, aku terdidik untuk menjadi kuat dan tangguh. Tidak manja, tidak cengeng, tidak mengeluh. Dalam suasana apapun, tetap harus menjadi berkat dan sesuatu untuk orang lain.Tuhan akan senantiasa memberikan pelangi bagi mereka yang kuat menghadapi badai dan mau belajar menari di tengah hujan. 

Dari Marcell, aku belajar memberikan kesempatan dan toleransi. Pentingnya pemikiran positif mengenai kehidupan dan pola pikir setiap orang sebelum menentukan keputusan. Sebuah hati yang besar dan lapang untuk menerima dan bertahan. Sebuah arti dari nilai campur tangan Tuhan dan rencana besar milik Tuhan atas hidup kita. 

Mereka, satu per satu, dengan cara mereka masing-masing, telah mengajarkan aku begitu banyak hal. Membentuk diriku menjadi sebuah pribadi yang lebih baik. 

Setelah cucuran air mata mengantarkan sebuah peristiwa kehilangan Probo, pemisahan kondisi yang tidak seharusnya terjadi dan mengorbankan hati yang tulus. Setiap sakit dan kehilangan yang hingga detik ini tidak berhenti berdetak di nadi ku. Sebuah kesakitan karena kami tidak bisa bersama berlima, karena kami terpisahkan oleh takdir lewat sebuah keputusan yang terlalu otoriter. Bagi mereka mungkin ini hanya hal kecil, namun bagiku, ini seperti kehilangan seorang saudara. 

Butuh waktu sampai akhirnya bisa menerima keadaan bahwa kami nyatanya harus berjalan dalam sebiah takdir, dimana tidak ada Probo bersama dengan kita. Sebuah proses yang cukup panjang dan menyakitkan dan aku menemukan Marcell sebagai yang paling setia dan selalu ada dalam sebuah situasi menjadi Kabid. Terlepas dari menjadi kabid, Marcell adalah seorang partner yang luar biasa, yang masih menempatkan diri di sela kegiatan yang juga sama menyita waktunya. Sebuah apresiasi yang luar biasa buat Marcell, atas apa yang selama ini sudah dia bagi dalam hidupku, atas semua pemahaman dan pengertian, semua kesabaran dan kemurahan hati nya untuk menanggapi aku. 

Terlebih dari semua itu, sosok Adam sebagai saudara sejati yang ada di kala duka dan suka, melewati berbagai dilemmatis dan tetap maju. Sosok yang tidak pernah menyurutkan semangatku.

Sejujurnya, selain aku merasa tidak layak dan tidak pantas, aku juga merasa ini sudah bukanlah rumah ku. Sebuah perasaan tidak diterima dan tidak memiliki ruang membuat aku berpikir bahwa aku harus menyelesaikan tanggung jawab dan bagianku, dan lalu meninggalkan tempat yang bahkan sudah tidak ku kenali sebagai rumah lagi.. Aku percaya betapa sulitnya semua ini. Betapa sukarnya untuk berjalan mundur dan membuang segalanya.. Namun satu-satunya alasan yang ku miliki adalah keegoisan, bahwa kekuatanku untuk bertahan dan menghadapi semua ini mengalami penurunan perlahan-lahan. 

Nantinya, ketika aku pergi pun, satu harapan besar yang ingin aku sampaikan, bahwa aku berharap masih tetap menemukan saudara-saudara ku yang terus berjuang buat mimpi kita bersama, Adam, Niko dan Marcell.. 
Aku cuma bisa minta sorry, karena aku selemah ini, aku segampang ini menyerah, tapi semoga masih ada seberkas semangatku yang tertinggal di hati kalian, yang membuat kalian akan meneruskan perjuangan ini.. 

Terimakasih telah menjadi partner yang luar biasa.. 
Sekali dalam hidupku, aku pernah merasa amat sangat kecil dan tidak berarti, tapi kalian menempatkan ku pada suatu posisi, dimana aku terasa begitu berarti dan bermakna.. Begitu menjadi berkah bagi sesama.. Luar biasa. 

I come from no where, and will be no one. 

Sunday, 26 June 2011

5barriers!


Some people may said that, I'm kurang kerjaan. But, bukan itu maksud dari keberadaan Logo ala kadar nya ini. 5barriers. sebuah nama. hanya sebuah nama, dan aku sangat bangga berada di antara mereka. kami bukan pasukan pemberontak yang akan melakukan kudeta. no. kami bukan pasukan perusak plan yang sudah ada, tapi, mungkin lebih baik jika kita disebut Guardians. Kalo ngomong soal Guardians sgala, emang lebay banget kedengarannya, tapi itu lebih baik mungkin, apalagi image yang ditangkap pertama kali dengar kata Barriers adalah penghalang. yups, konsep dan tujuan serta misi visi awal memang untuk menjadi penghalang rezim otoriter yang akan berlangsung, namun lately, bergeser menjadi lebih friendly. 

5barriers lahir Kamis, 21 April 2011, lewat sebuah perbincangan santai dengan Pak Roy, salah satu dosen kami. Hari itu, aku mengadakan briefing panpel jam 10, dimana pada saat itu, Boo [lately, you will know him finely] adalah salah satu panpel ku, dan dia datang telat. dari kejauhan, ada Dam, yang memang pada hari itu akan mengadakan pertemuan dengan Pak Roy selaku dosen pembimbing untuk kegiatan Mentoring yang akan segera jalan. entah bagaimana cerita nya, juga ada Nik yang datang untuk kuliah KEI, tapi ditiadakan, ada Cell juga yang datang untuk memastikan apa ada kuliah kei apa ngak. singkat kata, tanpa tau maksud kedatangan masing-masing, kami berlima bertemu. dan aku percaya ini bukan kebetulan. 

Jam 12 aku ada janji buat makan Fu Yuan sama Ko Felix dan Ce Son, alhasil, aku hanya sebentar berbincang-bincang dengan mereka, karena selanjutnya aku pergi, dan mereka melanjutkan perbincangan dengan Pak Roy, yang kemudian, Pak Roy lah yang memberikan nama 5 barriers buat kita, aku cukup tahu sekilas detik-detik kronologi lahirnya nama ini, but here we are, 5 orang yang tanpa sengaja, tanpa janjian dan tanpa rencana punya visi yang sama untuk manbis.ONE HEART. sebuah visi klasik yang sudah tertanamkan di benak kami masing-masing sejak kami pertama kali menjadi mahasiswa jurusan Manbis dan ketika kami mendengar kata HIMA. One heart adalah mimpi tertinggi yang belum tercapai oleh jurusan kami yang mayoritas memiliki pasukan terbanyak. One heart juga yang kali ini menjadi visi dari Ketua Hima kami. dan yang akhirnya juga menjadi visi 5barriers. Kita semua sama-sama mau One heart, tapi mungkin cara kami beda, jalan kami beda dan kami nyata memiliki ketidaksamaan langkah dengan pemimpin kami. 

Banyak waktu yang orang awam bakal bilang, "You are wasting your time!" tapi, kami memang telah mempergunakan banyak waktu untuk membahas semua ini. Membahas langkah-langkah taktis dan kecil yang masih sempat kami lakukan untuk menyelamatkan Manbis ke depannya. Mungkin dalam kasus ini, sebut kami Invisible Hand, karena kami benar-benar Invisible. Bekerja dengan tangan-tangan tak terlihat, tapi kami tidak diam, kami memutar otak, membuang banyak waktu, dan kami tidak berhenti memikirkan jalan keluar. Memikirkan hal kecil apa lagi, yang mampu kami lakukan untuk merubah takdir, memperbaharui masa depan. Tapi, Tuhan telah menuliskan segalanya indah, sekalipun fantasi terliar kami untuk kudeta, 3 or No one, dan hal-hal ektremisasi lainnya, sama sekali tidak nyata, tidak ada jaminan dan tidak menyelesaikan apa pun. 

Ngobrol ngalor ngidul via BBM grup. Itu adalah satu-satunya media yang menyatukan kita. satu masalah timbul. langsung post di grup dan sesegera mungkin ditanggapi, benar-benar berasa Power Rangers. Tapi, itulah 5barriers, kami bukan penghalang, kami bukan pemberontak, dan kami bukan musuh. tapi kami hanyalah 5 orang biasa, yang memiliki hati untuk jurusan ini, memiliki visi nyata untuk jurusan ini, dan kami bersedia menjadi 'kulit manbis'. We are, just a simple heart.

The five of us are Probo Suwignyo, Marcell Wiradinata, Julianti Chiasidy, Adam Gian, Niko Julius. 

Here we are, with our simple heart!

Hard for me to say directly, but I'm so happy, I'm so proud for being a part of them. They are really great. I learn more and more and more, I can't stop learning from them. They teach me many more, the things that I can't count. Togetherness. the art of being brave. how to be hope limitless. and One Heart. Being a part of them is the thing that I never dream, I never imagine, just happen, and real.

Probo's  favorite quote, As long as you stay positive, It will be positive too..
Marcell's favorite words are too much, but the one that I always try to keep in my heart is, Kemonn, It's not that hard..
Adam's favorite quote, You never alone, Together we stand, together we will be.
Niko's favorite quote, Everything's will be ok. 

The five of us, have our own capabilities and ways to solve the problem, we live for our live, and we do for our best. We always believe, that nothing impossible and nothing happened accidentally.  Everything has been planned for us. He has planned everything for us. just Trust HIM and, we never stop to serve. 




Notes : The full biodata about 5 barriers will coming soon. Just wait! 
xoxo,
sansan 5barriers, *hug, big hug. 

Last day in Surabaya [PART.2]

Setelah di jemput ko Felix, aku dan Ce Son memulai perjalanan panjang mengasyikkan kita ke Grand City.. Kembali duduk di mobil Ko Felix, is really really make me happy, I miss SMASH [nama mobile ko Felix], I miss mobil yang tape nya lagu-lagu Korea, meski ada beberapa lagu nya JB dan yang paling penting, I miss our togetherness, meskio tanpa Ndut dan Eric. Later, kita ketemu Eric di GC langsung. Setelah perjalanan yang lumayan sepi di awal, dan aku menarik napas panjang berkali-kali, ko Felix mendaulat diri ku untuk bercerita. Akhirnya setelah bercerita sana sini, menumpahkan semua unek-unek. Case closed, perjalanan kita mulai santai, suasana mulai mencair, dan semua terasa menyenangkan. Sesampainya di GC, tempat pertama yang kami tuju adalah food court, makan, menggantikan waktu-waktu makan yang terbuang sia-sia [ach, lebay!! >,<] dan mulai lah makan, meski makan nya pun ala kadar nya, ndak sesemangat makan biasanya yang porsi besar, tapi at all, enough lah.. setelah makan, sambil nunggu eric, dengan sembrono nya, kita cerita ngalor ngidul, ketawa keras-keras, ngak peduli tetangga kanan kiri.. I'm absolutely feel so happy for being around them. Mengamati Ko Felix yang tertawa, dan Ce Son yang tertawa, menurut ku amat sangat membahagiakan, dan aku bisa begini terus selama nya.. As long as still with them. 

Ngak lama, eric dateng, kita mulai puter-puter ke Gramed, Toko Aksesoris, ngeliatin org main Ice Skating, sampai turun beli kue di Crystal Jade.. Luar biasa. sekali lagi, kami tidak banyak bermain, tidak banyak makan, tapi kami memanfaatkannya untuk saling pandang, bercengkrama dalam diam, itu semua jauh lebih baik dan menyenangkan, dan akhirnya kami kembali duduk di food court, makan Chicken Teriyaki Bun yang dibeli eric di Crystal Jade, dan aku membawa dua cup Es Puter Kelapa Singapura Livin's. Berbagi dan tertawa bersama.. Kita kembali bercerita bersama, dan benar-benar... Ini yang aku rindukan.. Merapat mendekati pukul 9, kami memutuskan untuk pulang, karena pertimbangan aku masih harus siap-siap, dan kita masih harus mengantar eric pulang.

Selama perjalanan mengantar eric pulang, ada beberapa topik dewasa yang dibahas, terutama mengenai kiat-kiat mempersiapkan pernikahan.. Dari sewa gedung, list undangan, sampai ke Wedding Kiss [eric gilaaa poll!!] setelah mengantarkan eric pulang, kembali tinggal kami bertiga. Ditemani lagu JB dan sisa sisa tenaga yang ada kami masih sedikit bercerita, sampai benar-benar hening, dan mengantarkan Ce Son pulang. sebuah moment mengharukan, karena Ce Son pake acara bilang, "See You ya, Take Care.." [oouhh, so sad!] Tinggal berdua sama Ko Felix, dan ya semakin sedikit topik yang dibahas, tapi It's ok. I love silence. Setelah muter dan menurunkan aku di depan kost, ko Felix blg, "Hati-hati ya, sampai ketemu lagi.." dan SMASH berlalu bersama dengan Ko Felix. I'll be missing all of you so much. 


My Last Day in Surabaya was so excited. I love Roller Coaster, I love 5barriers! See you soon.